Kamis, 06 April 2017

Senantiasa Bahagia dan Kaya

Saudara-saudari sekalian, Allah sebagai Tuhan kita tidak akan pernah sekecil atau setitikpun lengah terhadap hambaNya. kasih sayangnya akan selalu menyertai kita karena hanya Allah lah sang Ar-Rahman dan Ar-Rahim.

Maka bersyukurlah selalu, Islam telah datang kepada kita, Islam telah kita peluk baik itu sudah dari keturunan kita ataupun diberikan hidayah untuk memilih Islam sebagai agama dan keyakinan sepenuh hati.

Salah satu kedatangan agama ini ialah memberikan kabar gembira, oleh karenanya sosok junjungan kita yaitu Nabi Muhammad saw adalah sosok baik, yang kehadirannya membasuh panas atau luka, memberikan kesejukan terhadap siapa saja, dan yang terpenting mengarahkan pada kesejahteraan, keselamatan dan kebahagiaan yang hakiki yaitu hanya kepada Allah swt.

Nabi Muhammad sendiri bersabda dari riwayat Ad-Dhailami yang artinya "Kebahagiaan yang paling bahagia ialah panjang umur di dalam ketaatan pada Allah swt"

Benarlah sabda Nabi tersebut, karena hamba Allah yang senantiasa mendekatkan dirinya atau taat kepada Allah pastilah dalam segala situasi baik suka dan duka selalu mengutamakan Allah di atas apapun, sehingga di dalam keadaan yang sangat terpuruk pun hamba tersebut hanya akan menangis, berpeluh diri, berkeluh kesah ataupun curhat hanya pada Allah yang maha Terpercaya dan janjinya pasti, maka tiada rasa kecewa melainkan obat diri dari masalah tersebut, karena hamba itu yakin bahwa Allah yang menghendaki hidupnya, yang memberinya cobaan dan yang mengangkat cobaan itu.

Seperti firman Allah swt dalam penggalan surath Al-Baqarah ayat terakhir yaitu

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

yang artinya "Allah tidak akan memberi cobaan kepada hambanya kecuali hamba itu menyanggupi."

Maka di saat dirinya terpuruk tetap dalam ketaatan, apalagi di saat bahagianya, hamba itu tahu bahwa kebahagiaan juga merupakan cobaan. jika tidak taat, hamba itu bisa salah dalam menyalurkan kebahagiaannya, mudah goyah, foya-foya atau hal-hal yang jauh daripada pedoman agama.

Mengingat ayat Allah tersebut maka hamba itu tahu dan bahagia tetap pada koridor yang Islami yaitu bersyukur dan merayakannya dengan perbuatan baik seperti kelebihan rejekinya digunakan untuk membantu yang kurang mampu, menghibur saudaranya yang sedih, memberi kepada yang meminta pertolongan dan lainnya.

Karena Nabi Muhammad bersabda "Kekayaan bukanlah melalui banyaknya harta, melainkan hati yang selalu merasa cukup" HR. Bukhari dan Muslim.

Kecukupan bahagia adalah bagaimana hati selalu puas dalam rasa syukur, karena niscaya sekalipun manusia diberikan satu gunung emas yang besar, tanpa hati yang penuh rasa syukur, manusia itu hanya akan menginginkan gunung emas kedua dan seterusnya, dan kekayaannya bukan mencukupkan melainkan semakin memperbudaknya dari nafsu haus dan lapar akan harta yang fana itu.

Manusia yang tidak taat akan selalu dalam tekanan kekhawatiran rezeki sehingga resah bila rezekinya seolah direbut orang lain, hilang atau bahkan tidak disediakan. Maka hal ini yang membuat penyakit hati bagi manusia tersebut, hamba Allah yang taat seperti Imam Syafi'i berkata "Aku yakin bahwa jatah rezekiku tidak akan diambil orang lain, maka hatikupun selalu tenang karenannya"

Ucapan Imam Syafi'i ini didasari keyakinan dan ketaatannya pada Allah dan nabi Muhammad, bahwa bahagia, rezeki, dan kehidupan yang selamat baik dunia dan akhirat itu semata hanya bisa didapatkan jika hati hanya diisi dengan keimanan pada Allah swt, Nabi Muhammad dan Islam itu sendiri.

Maka cukuplah Allah di hati hamba Allah yang taat itu, kesadaran itu jelas karena apapun yang mau di isi di hati baik seluruh jagat raya ini tidak akan pernah cukup, karena jagat raya ini hanyalah ciptaan Allah, artinya apa yang diciptakan tidaklah lebih luar biasa dibandingkan dengan sang pencipta itu sendiri.

Hanya dengan ketaatan pada Allah yang membuat hati kita tentram, Allah telah mengingatkan itu pada kita melalui firmannya dalam surath Ar-Ra'd ayat 28

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram."

Kaya menjadi patokan bahagia manusia, namun bagi hamba Allah yang taat kaya itu bukan kekayaan harta. karena harta bukan kebahagiaan sejati, harta hanya benda semu yang ceoat atau lambat akan pergi dari hamba Allah, karena harta tidak kekal abadi, kembali Imam Syafi'i mengungkapkan tentang kaya dan bahagia sejati melalui ucapannya
"Bila engkau adalah pemilik hati yang ridha dan selalu merasa cukup dengan pembagian Allah (Qana'ah), maka engkau adalah orang kaya"

Karena hamba Allah sadae bahwa bahagia dan kaya yang sebenarnya adalah kekayaan yang abadi dan kebahagiaan yang kekal, di dunia ini atau bahkan di akhirat itu, tiada yang kekal abadi kecuali Allah swt. Maka bahagia dan kaya hanya bila kita menuju pada Tuhan, Allah swt.

Semoga dengan ini bisa menguatkan kita selalu dan penuh keyakinan sebagai hamba Allah yang taat, senantiasa bersama Allah, bahagia dan kaya karena Allah, Aamiin.

Billahi Fi sabilil Haq, Fastabiqul Khairat

Selasa, 28 Maret 2017

Teladan adalah Panutan tanpa perlu Pencitraan. Teladan dari sang Pangeran Para Dokter

Teladan tidak pernah "Pencitraan" dan layak dijadikan panutan.

Kita ambil contoh sosok yang di bahas oleh L. Garde dalam La Pensee religieuse d' Abicenne (Ibnu Sina)

dan juga banyak ringkasan riwayat Islam lain mengenai yang di kenal oleh dunia Barat sebagai "Pangeran Para Dokter" ini.

Pernah muridnya bertanya, kenapa dengan kecerdasan dan konsep yang luar biasa dari banyak karya dalam berbagai bidang yang digeluti oleh guru (Ibnu Sina) dan di kenal paling pandai pada zamannya itu tidak mencetuskan agama baru atau merintis karir menjadi Nabi.

Ibnu Sina hanya tersenyum, di keesokan pagi pada subuh yang sangat dingin Ibnu Sina bertemu dengan muridnya, dan melarang muridnya mengambil air wudhu karena khawatir akan sakit sebab suhu yang tidak bersahabat. Namun murid itu mengabaikan perintah gurunya dan tetap berwudhu dan melaksanakan solat berjamaah, Selesainya si murid kembali bertemu dengan Ibnu Sina dan berkata padanya

"Itulah mengapa aku tidak mengaku seorang nabi. Di sini aku, guru dan tuanmu, masih hidup dan merupakan ahli kedokteran terbesar saat ini, melarangmu untuk tidak membasahai tubuhmu dengan air dingin. Ternyata kamu tidak mengindahkannya dan justru mengikuti perintah seseorang yang hidup di Arab empat abad lalu, yang tidak pandai baca tulis, dan yang tidak pernah kamu temui. Itulah perbedaan antara seorang nabi dengan seorang cendekiawan dan filsuf".

Ulama sejati tidak mengagungkan atau diagungkan tanpa sebab. Dan selalu memiliki cara cerdas dalam menyikapi berbagai hal, baik dari yang paling baik maupun paling buruk datang padanya.

Sebab yang layak dijunjung dan paling layak diikuti bagi mereka yang sadar adalah tetap dan absolut hanya para Nabi atau Rasul Allah.

Minggu, 19 Maret 2017

Berkhidmat Atau Berkarir

Sebuah renungan singkat untuk kita para Kader yang mengaku Ber-Muhammadiyah.

Sejak pertama kali menggeluti buku Kemuhamadiyahan di Pondok Pesantren saat masih duduk di bangku SMP, saya akrab dengan pembahasan surath Al-Baqarah, Ali Imran dan Al-Ma'un yang biasa menjadi gerakan Teologi Muhammadiyah terutama dalam amal usahanya.

Muhammadiyah telah memberi doktrin bagi para simpatisan ataupun kader Muhammadiyah untuk mengutamakan bertindak walau itu kecil ketimbang berbicara terlalu banyak. Mengesampingkan upah, dan meninggalkan kepentingan atau keuntungan duniawi sebagaimana Islam dan Nabi Muhammad menyampaikan.

Oleh karenanya, banyak pula guru saya yang notabene aktivis Muhammadiyah, dan Aisyiyah selalu menyampaikan "Jangan kenakan baju Muhammadiyah demi kepentingan bukan Muhammadiyah"

Dan itu benar-benar dicontohkan oleh guru-guru saya, ketika mereka terlibat politik dan diusung oleh Partai atau maju sebagai Pejabat kota dan daerah, mereka tidak mengatakan "Ini saya dari Muhammadiyah" atau sejenisnya yang membawa-bawa nama Muhammadiyah.

Sebuah cerminan untuk saya pribadi bahwa ber-Muhammadiyah itu bukan untuk mengisi perut saya atau menambah kontak di Handphone saya apalagi menggemukan isi dompet saya.

Saya juga ingat kata seorang Ustadz yang mengisi pengajian bulanan Muhammadiyah di rumah saya "Kalau mau kerja atau cari duit di Muhammadiyah doank ya nggak perlu jadi atau ngaku-ngaku orang Muhammadiyah".

Ya itu juga tentunya menjadi sindiran yang sangat mengena pada diri saya, menjadi mahasiswa berpikir punya duit atau pekerjaan tetap, punya orang dalam atau "Link" supaya masa depan ada kepastian pastilah yang saya inginkan, maka dalam hati terdalam ada rasa ingin bisa memanfaatkan "Muhammadiyah" atau intansi dari Muhammadiyah seperti "IMM" untuk bisa jadi jembatan karir saya kelak.

Dan itu adalah hal wajar namun tidak pantas karena secara dasar saya ber-Muhammadiyah atau ber-IMM cuma untuk kebutuhan saya pribadi saja jika seperti itu. Apalagi menggunakan Almameter merah sebagai lambang mahasiswa Muhammadiyah ini juga demi politisasi, padahal IMM atau Muhammadiyah ini bukan partai atau sarana Politik.

"Kalau ingin kerja, ingin duit, ingin jabatan ya sana cari kerjaan, bikin usaha atau ikut Parpol minimal organisasi Politik dan semacamnya" Sindir saya untuk saya sendiri dan pembaca yang merasa.

Karena siapapun anda pasti tahu, pesan Ahmad Dahlan yang berkenaan kurang lebih tentang "Harumkan nama Muhammadiyah bukan harumkan nama anda menggunakan Muhammadiyah". Karena sejak awal ber-Muhammadiyah baik anda sebagai kader Hizbul Wathan, Tapak Suci, IPM, IMM ,NA, PM dan lainnya itu bukan tentang berkarir dan menghasilkan profit pribadi atau kelompok, tapi tentang mengabdi dan berkhidmat untuk umat.

Selebihnya kembali pada diri masing-masing, mau memanfaatkan Muhammadiyah atau bermanfaat untuk Muhammadiyah.

Mari kita mencinta tapi tidak buta, mari memiliki tapi tidak untuk sendiri-sendiri

Wallahu a'lam

Minggu, 22 Januari 2017

Sunath yang Berkembang II

Masih soal Sunath yang berevolusi.

Budaya memanah atau pebih tepatnya menembak. Adalah budaya yang wajar di Barat. Di Timur Tengah untuk kaum radikalis atau yang di landa perang hanya karena beda berapa kali harusnya sholat wajib dalam satu hari.

terkhusus di Amerika, negara federal yang merupakan negara bagian ini memiliki lebih dari 50 negara bagian, negara bagian ini anggap saja seperti DIY Yogyakarta di Indonesia.

yang berarti setiap negara bagian memilki kultur berbeda termasuk dalam peraruran daerahnya. Tapi soal budaya menembak, hampir semuanya sama.

Seperti Alfamart dan Indomaret yang banyaknya seperti jumlah becek yang ada di Jakarta, Toko senjata di Amerika seperti itu juga, di setiap toko senjata terdapat sekolah atau kursus menembak, yang tentu saja sama banyak seperti kios penjual obat kuat di pinggir jalan yang ada di Jabodetabek.

Menembak atau latihan menembak adalah hal murah di sana, setidaknya murah karena jumlah masyarakat yang sejahtera atau berduit cukup banyak dan dikhususkan untuk warga sipil. Bukan hanya untuk kalangan militer, ini lebih seperti Wajib Militer bagi semua orang sekalipun boyband atau girlband selama dia berkewarganegaraan Korsel.

Ya memiliki senjata di dalam rumah adalah hal biasa bagi warga Amerika atau warga imigran Amerika, seolah mereka telah bersiap bila Zombie mulai menginvasi Amerika.

Walau regulasinya ketat, seperti berkendara. saking resminya, kamu bisa memiliki lisensi resmi seperti Surat Izin Mengemudi.

Tipe senjata api kecil itu seperti SIM kendaraan roda dua, senjata api sedang itu SIM kendaraan roda empat dan senjata api kelas berat itu juga seperti SIM kendaraan berat atau mungkin lisensi mengendarai kapal atau pilot pesawat terbang.

Well, jumlah pemerkosaan dan kekerasaan jalanan di sana juga tidak jauh berbeda seperti di Palestina atau Suriah. Contoh kecilnya di bagian Chicago di mana sesama orang kulit hitam bisa saling membunuh hanya karena berbeda warna bendera saja. Like you see in GTA San Andreas, hanya saja itu tidak di dalam Video Game.

Tidak terlalu terlihat, wajar karena luas Amerika berpuluh-puluh kalilipat daripada Palestina, Israel atau Syuriah bila digabungkan ketiganya sekaligus. Mereka lebih fokus pada berita propaganda yang bisa kalian nikmati lewat TV Satellite, Film layar lebar mereka di Bioskop atau menontonnya secara Ilegal dengan WIFI curian juga.

Memanah dan menembak jauh berbeda, skill dan ketangkasan merakit senjata, beban senjata, fungsi senjata tembak jarak dekat, jauh, teknologi, efisiensi, ledakan ataupun daya rusaknya tidak ada di memanah.

Sebesar apapun panahmu, kamu bisa di bunuh seketika hanya dengan hand gun kecil berpeluru hanya beberapa milimeter saja, kalah cepat, kalah kuat dan kalah segalanya.

Dan untuk bisa menembak secara nyata, di Negara kita perlu ongkos 100-200 ribu Rupiah hanya untuk soft gun, dan akan lebih mahal untuk senjata sungguhan. Itu baru harga pulau Jawa, belum harga pulau lain yang bisa berkalilipat seperti di Kalimantan apalagi Papua.

Jangankan menembak, biaya memanahpun juga tidak murah kecuali kamu punya "Orang dalem". Well memang semuanya perlu modal.

satu tentara Amerika dengan senjata lengkap saja menghabiskan setidaknya 17.000 Dolar Amerika dalam invasi di Afghanistan satu dekade lalu yang pasti anda ketahui tragedi dan akhir yang kelam untuk Sadam Husein, wajar bila biaya berlatih senjata itu mahal. Karena senjata, perang atau kedamaian dunia itu "All about Economy."

So, jika kamu mampu maka memanahlah, tapi jika kamu kaya maka jangan hanya memanah, belajar juga senjata yang sesungguhnya, belajar bela diri dan menjadi pemberani. Ini bukan ajakan untuk menjadi teroris tapi sebagai Muslim, menjadi kuat dan kaya adalah hal yang harus di junjung. Karena fondasi agama akan lebih kuat dengan dipenuhi orang-orangnya yang kaya dan kuat dari segala aspeknya.

Ya hal itu sangat perlu, karena musuh kita bukan hanya berasal dari mereka kaum yang menolak keimanan pada Muhammad ataupun Tuhan yang mengutus beliau. Bahkan mereka yang menyebut dirinya Muslimpun juga bisa menjadi musuh bagi Muslim lainnya, kaya dari berbagai aspek sangat perlu. Untuk menangkal adu domba atau perlawanan intelektual dari musuh maupun perlawanan fisik dari mereka.

Kita boleh memanah, tapi jangan sampai beranggapan memanah itu cukup. Karena itu sunath Nabi, saya yakin jika Nabi Muhammad hidup di zaman sekarang. Bunyi Hadisnya bukan lagi "Memanah" tapi "Menembak".

Ya karena Hawk Eye hanya ada di film, Muhammad Al-Fatih atau di kenal juga Sultan Mehmed II saja membuktikannya. Kalau beliau tidak mungkin menaklukan Konstatinopel atau Romawi Timur jika tanpa meriam atau penemuan bubuk mesiunya, tentu saja benteng Konstatinopel akan tetap kokoh jika Al-Fatihh hanya menyerangnya dengan busur panah.

itulah sunath Nabi, kalau di amalkan jangankan satu orang, satu negara saja bisa jadi negara adidaya.

Kita juga bisa, di mulai dari diri sendiri!

Sabtu, 14 Januari 2017

Sunat yang Berkembang

Memanah, berkuda & berenang. Olahraga favorit dari Nabi Muhammad, merupakan olahraga yang melatih seluruh bagian tubuh dan juga melatih bagian dalam tubuh terutama mentalitas, nyali dan konsentrasi pelaku olahraga tersebut.

perkembangan zaman turut membantu olahraga ini berkembang dari hal teknologi, semenjak zaman Muhammad Al-Fattah menemukan bubuk mesiu sebagai senjata, memanah mulai pudar dalam seni berperang. digantikan dengan senapan dan meriam peledak.

Semenjak revolusi Prancis bergulir dan zaman industri masuk di Eropa, maka Kuda tak lebih hanya sebagai budaya, dan hewan tradisional karena segala bentuk transportasi dan manuver perang telah digantikan oleh motor, mobil, Tank dan lainnya.

Berenang yang merupakan pelatihan ketangkasan dalam menghadapi medan perang yang tidak dikuasai manusia pada umumnya yang hanya bisa leluasa di darat inipun juga telah berkembang pesat semenjak Amerika membebaskan diri dari Inggris yang biasa dikenal dengan nama "Civil War".

Manusia kini bisa menguasai laut dengan teknologi kapal, kapal selam, kendaraan amfibi, bahkan alat selam untuk manusia perorangan dan ditambahkan dengan kemampuan udara lewat pesawat terbang, helikopter, alat terjun payung dan sejenisnya.

Tiga olahraga yang digemari Nabi Muhammad ini benar-benar disadari dengan baik oleh orang-orang Barat betapa sangat penting dan jika dikembangkan maka akan menjadi sebuah peradaban maju dan juga senjata yang teramat kuat.

Penting menjalankan sunath Nabi, itu dibuktikan oleh orang Non Muslim atau Non Muhammadiyin sekalipun. Namun lebih penting lagi memadukan sunath Nabi itu dengan teknologi jika tidak ingin terus dibokongi oleh lawan.

yuk sunat!

Sabtu, 03 Desember 2016

Bungkus dan Isi

Apa benar berkata baik itu dilihat dari baik ucapannya, rapi mengatakannya, merdu suaranya dan indah bahasanya?

Jadi sudah pasti jika pria bersurban dan berjubah lalu wanita berkhimar dan berketutupan semua tubuhnya itu baik dan benar (tentu saja kebanyakan dari mereka Insya Allah baik)?

Tidakkah itu seperti seorang Koruptor? Ia baik di media, berpakaian rapi, berkata-kata indah dan ramah parasnya. Atau bahkan tampan dan cantik orangnya.

Tentu saja yang terlihat baik belum tentu baik, jika perkataannya yang indah dan rapi ditujukan untuk menghina secara lembut itu jelas tidak baik, karena niatnya saja sudah buruk. Apalagi jika diniatkan untuk menyerang satu pihak hanya karena tidak sependapat dan lain-lain.

Itu ibarat bangkai yang diselimuti kain emas atau kotoran yang diberi parfum termahal, ia tetap akan menjadi bangkai dan kotoran bagaimanapun juga.

Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Arbain, bahwa Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”

Tak selamanya perkataan baik harus direkayasa dan dibuat tipu daya dengan yang terlihat dari bungkusnya saja. Mereka yang berwajah dua seperti koruptor atau penipu yang paling sering mengamalkannya. Kita jangan meniru hal yang demikian

Berucaplah dan pertanggungjawabkan ucapanmu, sehingga hati-hati baik dari bungkus dan isinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang menyungkurkan leher manusia di dalam neraka melainkan hasil lisan mereka.” (Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’, no. 5136)

Bisa saja ucapan baik hadir dari pembahasaan yang kasar namun ia menggetarkan hati pendengar hingga benar-benar bisa membuat orang itu memperbaiki diri, tak selamanya datang dari yang berpenampilan (berbungkus baik)

Seperti seorang sahabat nabi yang sadar akan dirinya karena perkataan orang gila, seperti khalifah Umar yang sadar akan kepemimpinannya lewat orang miskin dan gelandangan. Dan pasti masih banyak contoh lainnya bahkan datang dari pengalaman pribadi masing-masing pembaca.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,
”Seseorang mati karena tersandung lidahnya
Dan seseorang tidak mati karena tersandung kakinya
Tersandung mulutnya akan menambah (pening) kepalanya
Sedang tersandung kakinya akan sembuh perlahan.”

Mari luruskan niat dan berkata baik melalui isi, jika bisa melalui bungkus dan isi juga lebih baik. Apalagi kewajiban sebagai Muslim adalah melaraskan ucapan, pikiran dan tindakan.

Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam kitabnya, Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala, hlm. 45, “Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara, karena betapa banyak orang yang menyesal karena bicara dan sedikit yang menyesal karena diam. Orang yang paling celaka dan paling besar mendapat bagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau jalan.”

Tak perlu banyak menjual dalil jika bukan untuk yang baik, kalau ayat atau dalil yang suci hanya digunakan untuk niat yang tak suci apalah gunanya, anda tidak akan dilihat islami oleh orang yang mengerti dan hanya menjadi manusia yang keji karena menipu orang yang masih belum pintar dengan dalil-dalil.

Ketahuilah saudara-saudariku sekalian, Allah mengingatkan pada kita melalui Al-Qur'an (sebagai pengingat kita semua. Bukan untuk memperalat ayat dan dalil)

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوولًا

‘Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawaban.’ (QS. Al-Isra’:36)

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

‘Tiada suatu kalimat pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.’ (QS. Qaf :18)

Jangan sampai akhirnya nanti seperti realita yang sering kita jumpa yakni "Yang disindir tidak sadar yang nyindir merasa sempurna"

Karena Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata kembali dalam kitabnya, Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala, kali ini pada halaman 49 “Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya maka dia akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat maka dia akan diam. Sementara orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya.”

Ingatlah, berkata baik (melalui isi dan sebisa mungkin bungkusnya juga, jangan hanya bungkusnya) atau diam

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Berpikir baik, berkata baik, berbuat baik.

Balas yang buruk dengan yang baik, balas yang baik dengan lebih baik.

Allah menginstruksikan pada kita dalam Al-Qur'an demikian

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ ۚنَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ

'Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.'
(QS. AL-Mu'minun :96)

Jadi baik tapi jangan jadi yang paling benar, karena ingatlah dengan dzikrullah.

Kesempurnaan dan kebenaran sejati hanya milik Allah.

Tebar kasih dan cinta, jangan benci dan dusta

Jumat, 02 Desember 2016

Yang Mencipta bukan yang dicipta

Takut, ekspresi yang hadir dan mengancam diri seseorang. Datang dari beragam hal dan ada ketakutan yang di rasa final dan absolut. Yaitu takit dikala menghadapi kematian atau masuk neraka.

Kematian adalah suatu kepastian yang sudah melekat bagi siapapun yang bernyawa, sedangkan neraka adalah tempat terburuk yang akan ditempati kekal bagi mereka yang mati jika hidupnya berlaku jahat atau minim amal.

Mati, kiamat dan neraka hampir tertera dalam setiap agama, kepercayaan atau aliran-aliran. Sehingga orang akan melakukan kebaikan dalam hidup untuk mengindari mati yang buruk dan masuk neraka yang kekal.

Kenapa takut mati yang sudah pasti? Seolah saking takutnya nggak mau mati? Kenapa takut neraka? Seolah neraka adalah tempat yang mutlak takkan tergantikan sebagai hunian setelah mati?

Hei, simak ilustrasi ini. Nuklit diciptakan oleh ahli nuklir, dikendalikan dan aktif olrh yang membuatnya, nuklir yang super berbahaya itupun akhirnya bisa jinak atau aman karena terdapat pawangnya yaitu si ahli nuklir. Dalam artian Nuklir yang ledakannya mampu menghancurkan satu negara atau benuapun bisa dilunakan dan dapat di buat tak berdaya selama ada pencipta atau si pawangnya.

Jika kamu ingin menguasai dan mengendalikannya maka kamu cukup dekati saja si pengendali, atau lakukan hal yang baik dan turuti si pencipta atau pengendali ini, niscaya nuklir ini akan aman-aman saja.

Begitulah hidupmu, jika ingin menghadapi kepastian yang tak bisa dipungkiri (kematian dan neraka) maka berhentilah takut akan hal itu. Kematian dan neraka adalah ciptaan sama seperti kita, yang diciptakan Tuhan. Tuhan maha pengasih dan penyayang, Tuhan mendengarkan do'a kita dan paling tahu apa yang ada di dalam diri kita bahkan lebih dari diri kita.

Menjinakkan Neraka dan mengatur kematian adalah hal yang ringan bagi Tuhan, tak perlu takut mati dan neraka itu. Dekatilah Tuhan dengan tulus melalui ibadah dan amal saleh yang lurus hanya berasaskan niat pada Tuhan semata.

Niscaya kematianmu akan diatur sebagaimana layaknya kamu dan tempat kekalmu saat mati nanti yaitu surga.

Ingat, Mati dan Neraka itu hanyalah ciptaan Tuhan!

Tuhan adalah maha atas segalanya, maka tidak ada yang tidak mungkin atas kehendakNya. Datangilah diriNya, jika takut, maka takutlah hanya kepadaNya pula.

Semoga bermanfaat. insya Allah