Sabtu, 14 Januari 2017

Sunat yang Berkembang

Memanah, berkuda & berenang. Olahraga favorit dari Nabi Muhammad, merupakan olahraga yang melatih seluruh bagian tubuh dan juga melatih bagian dalam tubuh terutama mentalitas, nyali dan konsentrasi pelaku olahraga tersebut.

perkembangan zaman turut membantu olahraga ini berkembang dari hal teknologi, semenjak zaman Muhammad Al-Fattah menemukan bubuk mesiu sebagai senjata, memanah mulai pudar dalam seni berperang. digantikan dengan senapan dan meriam peledak.

Semenjak revolusi Prancis bergulir dan zaman industri masuk di Eropa, maka Kuda tak lebih hanya sebagai budaya, dan hewan tradisional karena segala bentuk transportasi dan manuver perang telah digantikan oleh motor, mobil, Tank dan lainnya.

Berenang yang merupakan pelatihan ketangkasan dalam menghadapi medan perang yang tidak dikuasai manusia pada umumnya yang hanya bisa leluasa di darat inipun juga telah berkembang pesat semenjak Amerika membebaskan diri dari Inggris yang biasa dikenal dengan nama "Civil War".

Manusia kini bisa menguasai laut dengan teknologi kapal, kapal selam, kendaraan amfibi, bahkan alat selam untuk manusia perorangan dan ditambahkan dengan kemampuan udara lewat pesawat terbang, helikopter, alat terjun payung dan sejenisnya.

Tiga olahraga yang digemari Nabi Muhammad ini benar-benar disadari dengan baik oleh orang-orang Barat betapa sangat penting dan jika dikembangkan maka akan menjadi sebuah peradaban maju dan juga senjata yang teramat kuat.

Penting menjalankan sunath Nabi, itu dibuktikan oleh orang Non Muslim atau Non Muhammadiyin sekalipun. Namun lebih penting lagi memadukan sunath Nabi itu dengan teknologi jika tidak ingin terus dibokongi oleh lawan.

yuk sunat!

Sabtu, 03 Desember 2016

Bungkus dan Isi

Apa benar berkata baik itu dilihat dari baik ucapannya, rapi mengatakannya, merdu suaranya dan indah bahasanya?

Jadi sudah pasti jika pria bersurban dan berjubah lalu wanita berkhimar dan berketutupan semua tubuhnya itu baik dan benar (tentu saja kebanyakan dari mereka Insya Allah baik)?

Tidakkah itu seperti seorang Koruptor? Ia baik di media, berpakaian rapi, berkata-kata indah dan ramah parasnya. Atau bahkan tampan dan cantik orangnya.

Tentu saja yang terlihat baik belum tentu baik, jika perkataannya yang indah dan rapi ditujukan untuk menghina secara lembut itu jelas tidak baik, karena niatnya saja sudah buruk. Apalagi jika diniatkan untuk menyerang satu pihak hanya karena tidak sependapat dan lain-lain.

Itu ibarat bangkai yang diselimuti kain emas atau kotoran yang diberi parfum termahal, ia tetap akan menjadi bangkai dan kotoran bagaimanapun juga.

Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Arbain, bahwa Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”

Tak selamanya perkataan baik harus direkayasa dan dibuat tipu daya dengan yang terlihat dari bungkusnya saja. Mereka yang berwajah dua seperti koruptor atau penipu yang paling sering mengamalkannya. Kita jangan meniru hal yang demikian

Berucaplah dan pertanggungjawabkan ucapanmu, sehingga hati-hati baik dari bungkus dan isinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang menyungkurkan leher manusia di dalam neraka melainkan hasil lisan mereka.” (Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’, no. 5136)

Bisa saja ucapan baik hadir dari pembahasaan yang kasar namun ia menggetarkan hati pendengar hingga benar-benar bisa membuat orang itu memperbaiki diri, tak selamanya datang dari yang berpenampilan (berbungkus baik)

Seperti seorang sahabat nabi yang sadar akan dirinya karena perkataan orang gila, seperti khalifah Umar yang sadar akan kepemimpinannya lewat orang miskin dan gelandangan. Dan pasti masih banyak contoh lainnya bahkan datang dari pengalaman pribadi masing-masing pembaca.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,
”Seseorang mati karena tersandung lidahnya
Dan seseorang tidak mati karena tersandung kakinya
Tersandung mulutnya akan menambah (pening) kepalanya
Sedang tersandung kakinya akan sembuh perlahan.”

Mari luruskan niat dan berkata baik melalui isi, jika bisa melalui bungkus dan isi juga lebih baik. Apalagi kewajiban sebagai Muslim adalah melaraskan ucapan, pikiran dan tindakan.

Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam kitabnya, Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala, hlm. 45, “Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara, karena betapa banyak orang yang menyesal karena bicara dan sedikit yang menyesal karena diam. Orang yang paling celaka dan paling besar mendapat bagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau jalan.”

Tak perlu banyak menjual dalil jika bukan untuk yang baik, kalau ayat atau dalil yang suci hanya digunakan untuk niat yang tak suci apalah gunanya, anda tidak akan dilihat islami oleh orang yang mengerti dan hanya menjadi manusia yang keji karena menipu orang yang masih belum pintar dengan dalil-dalil.

Ketahuilah saudara-saudariku sekalian, Allah mengingatkan pada kita melalui Al-Qur'an (sebagai pengingat kita semua. Bukan untuk memperalat ayat dan dalil)

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوولًا

‘Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawaban.’ (QS. Al-Isra’:36)

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

‘Tiada suatu kalimat pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.’ (QS. Qaf :18)

Jangan sampai akhirnya nanti seperti realita yang sering kita jumpa yakni "Yang disindir tidak sadar yang nyindir merasa sempurna"

Karena Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata kembali dalam kitabnya, Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala, kali ini pada halaman 49 “Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya maka dia akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat maka dia akan diam. Sementara orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya.”

Ingatlah, berkata baik (melalui isi dan sebisa mungkin bungkusnya juga, jangan hanya bungkusnya) atau diam

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Berpikir baik, berkata baik, berbuat baik.

Balas yang buruk dengan yang baik, balas yang baik dengan lebih baik.

Allah menginstruksikan pada kita dalam Al-Qur'an demikian

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ ۚنَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ

'Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.'
(QS. AL-Mu'minun :96)

Jadi baik tapi jangan jadi yang paling benar, karena ingatlah dengan dzikrullah.

Kesempurnaan dan kebenaran sejati hanya milik Allah.

Tebar kasih dan cinta, jangan benci dan dusta

Jumat, 02 Desember 2016

Yang Mencipta bukan yang dicipta

Takut, ekspresi yang hadir dan mengancam diri seseorang. Datang dari beragam hal dan ada ketakutan yang di rasa final dan absolut. Yaitu takit dikala menghadapi kematian atau masuk neraka.

Kematian adalah suatu kepastian yang sudah melekat bagi siapapun yang bernyawa, sedangkan neraka adalah tempat terburuk yang akan ditempati kekal bagi mereka yang mati jika hidupnya berlaku jahat atau minim amal.

Mati, kiamat dan neraka hampir tertera dalam setiap agama, kepercayaan atau aliran-aliran. Sehingga orang akan melakukan kebaikan dalam hidup untuk mengindari mati yang buruk dan masuk neraka yang kekal.

Kenapa takut mati yang sudah pasti? Seolah saking takutnya nggak mau mati? Kenapa takut neraka? Seolah neraka adalah tempat yang mutlak takkan tergantikan sebagai hunian setelah mati?

Hei, simak ilustrasi ini. Nuklit diciptakan oleh ahli nuklir, dikendalikan dan aktif olrh yang membuatnya, nuklir yang super berbahaya itupun akhirnya bisa jinak atau aman karena terdapat pawangnya yaitu si ahli nuklir. Dalam artian Nuklir yang ledakannya mampu menghancurkan satu negara atau benuapun bisa dilunakan dan dapat di buat tak berdaya selama ada pencipta atau si pawangnya.

Jika kamu ingin menguasai dan mengendalikannya maka kamu cukup dekati saja si pengendali, atau lakukan hal yang baik dan turuti si pencipta atau pengendali ini, niscaya nuklir ini akan aman-aman saja.

Begitulah hidupmu, jika ingin menghadapi kepastian yang tak bisa dipungkiri (kematian dan neraka) maka berhentilah takut akan hal itu. Kematian dan neraka adalah ciptaan sama seperti kita, yang diciptakan Tuhan. Tuhan maha pengasih dan penyayang, Tuhan mendengarkan do'a kita dan paling tahu apa yang ada di dalam diri kita bahkan lebih dari diri kita.

Menjinakkan Neraka dan mengatur kematian adalah hal yang ringan bagi Tuhan, tak perlu takut mati dan neraka itu. Dekatilah Tuhan dengan tulus melalui ibadah dan amal saleh yang lurus hanya berasaskan niat pada Tuhan semata.

Niscaya kematianmu akan diatur sebagaimana layaknya kamu dan tempat kekalmu saat mati nanti yaitu surga.

Ingat, Mati dan Neraka itu hanyalah ciptaan Tuhan!

Tuhan adalah maha atas segalanya, maka tidak ada yang tidak mungkin atas kehendakNya. Datangilah diriNya, jika takut, maka takutlah hanya kepadaNya pula.

Semoga bermanfaat. insya Allah

Selasa, 22 November 2016

Eric Abidal, Thariq Ibn Ziyadnya Sepak Bola

Eric Abidal pernah merasakan luar biasanya bermain bola bersama pasukan Barcelona, salah satu klub asal Catalan yang masyhur di dunia. Klub yang tidak diragukan kualitas dan sejarahnya ini pernah menjadi pelabuhan paling berarti bagi publik Muslim dunia khususnya Eropa dan Abidal sendiri.

Catalan di kenal dengan militansi kuat terhadap agama Nasrani, tidak seperti bagian Spanyol di Cordoba dan Sevilla yang kuat pengaruh Islam dan peninggalan-peninggalannya, Catalan sangat minim umat Muslim, sehingga hampir di sudut jalan lebih banyak gereja di bandingkan pertokoan.

Abidal adalah wajah baru dan sosok yang baik ahklak sehingga menjadi representasi Muslim bagi penduduk Catalan, Abidal banyak membeli bangunan seperti ruko atau gedung-gedung serbaguna untuk dijadikan Musholla dan fasilitas umat Islam di sana, sehingga tidak harus pergi ke daerah lain yang ada masjid atau harus setiap jumatan menyiapkan lapangan dan periizinan yang sulit hanya untuk shalat 2 rakaat saja.

Selain akhlaknya yang baik, abidal dicintai publik sepakbola karena kepiawaiannya dalam bermain bola. Tak khayal sikapnya yang baik di dalam dan di luar dapat menyentuh hati siapapun yang mengenalnya.

Begitulah saat ia didiagnosa mendapatkan kanker hati, dunia sepakbola turut berduka atas musibah yang ditimpanya, namun itu tak membuat Abidal berhenti dalam memperjuangkan umat Islam di catalan untuk dapat beribadah dengan mudah, donasi yang ia lakukan tidak berhenti walau dirinya kepayahan dalam pengobatan dirinya sendiri.

Sikapnya yang khusnul adab sampai membuat rekan setimnya saat itu seperti Xavi Hernandes rela bila hatinya didonorkan padanya, tapi tentu saja Abidal menolaknya. Rasa kepedulian datang tak hanya dari rekan setim, para fans Barcelona atau penduduk Catalan baik yang Muslim dan Non Muslim, bahkan rival bebuyutan Barcelona yaitu Real Madridpun memberi bantuan untuk Abidal, skuad Real Madrid saat itu seperti Casillas dan Sergio Ramospun turut hadir dan akrab menyemangati Abidal.

Saat penyakitnya dengan izin Allah berangsur membaik, dirinya kembali bermain di hadapan publik Camp Nou, markas kebesaran Barcelona yang mampu menampung lebih dari 100.000 penonton itu.

Haru dan tangis bahagia hadir dari seluruh saksi mata yang ada di sana, bahkan bagi mereka yang menyaksikannya melalui layar kaca. Kembalinya Abidal menjadi sebuah pelipur rindu sosok pemain bola hebat dan manusia yang baik sikapnya di mata siapa saja.

Seperti yang disampaikan Gus Dur, orang tidak akan memandang agamamu, tapi orang akan memandang jika dirimu baik.

Abidal telah menjadi sosok pendakwah dan bintang sepakbola bagi siapapun yang mengenalnya.

Jika Thoriq Ibn Ziyad datang ke Spanyol sebagai penakluk dan membuat daratan Spanyol menjadi negri Muslim, Wric Abidal pun melakukan apa yang dilakukan Thoriq dengan cara kekinian. Sikap baiknya yang membuat siapa saja jatuh hati padanya.

Seperti ucap Nabi, Abidalpun mempraktekannya. Yaitu sebaik-baik manusia, adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya

Senin, 14 November 2016

Patok Keyakinan dari Sumbernya Guys!

Mematok pemikiran orang masa kini sebagai rujukan hidup?

Kamu berpikir itu kekinian sehingga tokoh-tokoh penulis,motivator atau ustadz televisi yang tak jelas juntrungan pendidikannya dan keagamaannya hanya karena sekedar pandai merakit tulisan dan kata-kata yang bagus kau jadikan pedoman dan tuntunan.

Sudah lupakah dengan kitab sucimu? Ajaran-ajaran dari Nabi? Kitab-kitab keilmuan dan keagamaan karya pejuang intelektual agamis dahulu yang ratusan tahun hingga kini menjadi rujukan akademisi?

Agama jauh lebih baik dan cerdas menanggapi kehidupan yang kekinian sekalipun.

Kebebasan kehendak sangat dijunjung, toleransi, dan perkembangan dalam aturan-aturan pun tersaji lengkap didalamnya.

Agama membawamu terbebas dari kekolotan, keterbelakangan pemikiran dan sama sekali tak memenjarakan tingkah lakumu!

Kalau beragama, maka berpedomanlah pada agamamu, bukan kata orang, tulisan orang, pencitraan orang. Tak cukupkah kitab suci, Nabi, sahabat-sahabat salehnya, tokoh-tokoh pembawa peradaban yang menggunakan agama sebagai kekuatan revolusinya?

Ingat, Manusia di sebut manusia karena akalnya, bukan jasadnya. Kalau badan hanya sekedar badan, binatangpun berbadan, tumbuhanpun demikian, benda matipun sama.

#goodness
#fastabiqulkhairat

Islam itu Cinta dan Kasih

Sebagai agama, Islam di sebut sebagai agama cinta kasih karena aspek Esoterisme (spiritualitas Islam atau tasawuf). Islam tak pernah kurang dalam mempromosikan cinta antara hubungan manusia dengan Tuhan terutama penekanan pada privasi antara masing-masing pihak.

Pada perkembangan Islam klasik juga diupayakan terus Islam sebagai agama cinta dengan aspek keindahan di dalam unsur Tuhan (Jamal) dibandingkan aspek yang dahsyat atau kerasnya (Jalal)

Sehingga Islam selalu datang pada pemeluknya maupun yang non Islam dengan pesan damai dan tak ada ancaman atau pesan yang membawa ketakutan.

Namun sayangnya pada masa belakangan ini kaum Muslim seperti lupa dengan sisi esoteris agama mereka dalam hubungan percintaan sang hamba pada Tuhannya, tak jarang sesama Islam saling menghujat atau bahkan mengutuk dan mengkafirkan saudara seagamanya sendiri dan sangat alergi dengan yang berbeda agama.

Serta sangat mengumbar kegiatan agamanya, menjadi amalan publik atau alat komersial belaka. Jadilah Islam saat ini dan penganutnya sebagai suatu agama yang justru berorientasi pada aspek eksoterisnya saja (syariah, hukum dalam arti sempit. Kulit luarnya saja/simbolis)

Namun kering akan orientasi cinta.

Reflection

Proses itu Ibadah

Agama selalu memberi penghargaan tanpa memandang siapa anda. Sederhananya setiap pelaku ibadah akan diberikan ganjaran pahala dari proses yang dilakukannya. Biasanya semakin sulit prosesnya maka semakin besar pahala yang dijanjikan Tuhan.

Tak jauh berbeda dengan konsep orang yang cukup berusaha tanpa memeluk agama atau keyakinan tertentu. Mereka sadar untuk mencapai target atau kesuksesan yang mereka butuhkan adalah usaha atau prosesnya, bukan hasilnya. Karena hasil akan ada atas usaha yang ia perjuangkan saja.

Hal itu juga yang sebenarnya ditekankan dalam agama manapun, bahwa yang terpenting dalam ibadah bagi seorang hamba yang mengabdi adalah prosesnya, bukan hasil. Sebab hasil adalah hak absolut Tuhan, terkait pahala atau dosa yang hambaNya dapatkan.

Karena dengan berhenti membayangkan hasil atau balasan, maka seorang hamba akan beribadah atau berproses secara tulus dan ikhlas.

Mulailah berproses atas segala perbaikan yang dapat anda upayakan, jangan pikirkan ganjarannya karena dalam ibadah anda tak perlu imbalan. Jika anda berharap imbalan saat ibadah, maka secara tidak langsung hal tersebut menjadi kerja, mau melakukan karena di gaji.